Telisik.co, Bengkulu – Terkaitan pemberitaan media yang mengatakan siang hari kantor Lurah Bumi Ayu tutup. Disini Lurah Bumi Ayu memberikan keteranganya kenapa kantor Lurah tersebut tutup.

Saat di konfirmasi via telpon pribadi oleh wartawan pada Selasa malam (5/10/2021), Lurah Bumi ayu Inda Fajarwati mengatakan alasanya kenapa kantornya tertutup dan dimana para stafnya saat warga ingin mengurusi surat-suratan tersebut.

“Mulai dari Jam 8:00 Wib saya lagi mengahadiri rapat mediasi antara pak Arioto dan Pak Burman bertempat di Kantor Lurah Bumi Ayu sampe jam 10:00. Lalu dari jam 10: 00 Wib – jam 13:00 wib saya rapat bersama camat, kasi pemerintahan, Ketua RT 10, Ketua RT 25, RT 26 dan Ketua RW 02 di Kantor camat, mengenai sengketa lahan di Bumi Ayu 8,” ungkapnya.

Sedangkan di kantor sendiri ada staffnya yaitu Seklur, Windria Sari, Edijon, dan Marzon mereka dikantor sampai jam 13.00. “Tidak benar jika kantor kami kosong dari jam 11.00, Kantor ditinggalkan hanya selama 30 menit untuk para staff ingin melakukan sholat ke masjid dan membeli makan,”

Selanjutnya Inda juga mengatakan kenapa kantornya dikunci karena belajar dari pengalaman kantornya itu pernah di bobol orang yang tak bersalah.

“Makan siang dulu mereka tutup kantor, kenapa ditutup karena barang berharga disana banyak, seperti surat menyurat berharga, takutnya ada apa-apa, belajar dari pengalaman kantor kami itu sudah dibobol dua kali. Belajar dari dua kali kebobol ya kita ambil langkah kalau istrahat Shalat, Makan kami kunci, kenapa kami ambil langkah gitu karena belajar dari pengalaman itu,” paparnya.

Disini Inda juga meminta maaf terkait tertutupnya kantor Lurah Bumi Ayu ini, “disini kami minta maaf jika tuntutan masyarakat itu kantor Lurah harus buka 24 Jam dan kasilah kami waktu untuk istrahat sejenak cuman 30 Menit saja. Saya juga ada kelonggaran untuk staf saya jika mereka ingin shalat dan makan, tidak bisa saya melarang mereka karena itu hak mereka,” ungkapnya.

Dilansir dari media center kota Bengkulu, Dedy mengatan camat dan lurah jangan seharian full berada di kantor atau hanya duduk di belakang meja saja. Camat dan lurah harusnya sering ke lapangan menemui masyarakat dan mendengarkan aspirasi mereka.

“Kalau lurah dari pagi sampai sore di kantor saja itu bukan lurah namanya. Perbanyaklah ke lapangan. Waktu di kantor itu cukup 2-3 jam saja. Karena jadi lurah dan camat itu bukan cuma duduk belakang meja tapi mereka adalah orang lapangan. Harus sering turun menemui masyarakat. Sering sering ketemu masyarakat,” ujar Dedy.

Dikatakan Dedy, kalau lurah sering menemui masyarakat dan menerima aspirasi langsung dari warga maka tidak akan ada warga yang langsung wa atau nelpon walikota dan wakil walikota.

“Kalau kita sering ketemu masyarakat dan terima aspirasi masyarakat tidak akan ada warga yang langsung wa atau nelpon walikota. Memang kami membuka diri ke masyarakat dengan menyebarkan nomor HP tapi juga kami sortir,” kata Dedy.

Pewarta: Panji Putra Pradana