2.9 C
London
Sabtu, November 27, 2021

Kenali Gaslighting dalam Hubungan Kamu

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Suatu waktu ada seorang gadis bernama Nabilah yang sudah menikah dengan Beno, suaminya selama 3 tahun. Belakangan ini, dia tidak sengaja mendengar suaminya mengobrol dengan seorang wanita lain di telepon bernama Srie. Di rumah pun, dia juga mendengar Beno mengobrol dengan wanita tersebut secara sembunyi-sembunyi. Nabilah pun bertanya pada Beno untuk ingin tahu siapa Srie. Namun, Beno hanya menjawab, “Mungkin kamu salah dengar, sayang.”

Namun, Nabilah bersikeras dia tidak salah dengar dan menginginkan jawaban. Tiba-tiba, Beno naik pitam lalu membentak Nabilah, “Kamu curigaan banget, sih! Udah kubilang tadi kamu salah dengar. Aku sama sekali nggak kenal Srie! Kamu bikin aku pusing aja!” Nabilah pun terhenyak dan meragukan dirinya sendiri. Dia yakin dia mendengar Beno menyebut nama Srie di telepon. Apakah Nabilah hanya mengkhayal saja atau tidak, ya?

Di sisi lain ada seorang laki-laki bernama Kelvin sedang mengobrol dengan pasangannya, Tika. Kelvin sedang mengungkapkan kesedihannya tentang hubungan mereka yang mulai terasa hambar. Namun, Tika mengacuhkan perasaan Kelvin dengan berkata, “Kamu ngada-ada aja, deh! Sensitif banget kamu!” Tika pun ngambek dan akhirnya Kelvin pun meminta maaf padanya karena sudah membuat Tika terganggu dengan ungkapan perasaannya.

Dua ilustrasi itu menggambarkan operasi gaslihgting yang sedang dilakukan oleh Beno kepada isterinya Nabilah dan Tika kepada pacarnya Kelvin. Namun, Gaslihting tidak melulu terjadi pada hubungan bisa saja terjadi pada hubungan pertemanan, hubungan, dan orang tua. Tapi salah satu bentuk gaslighting yang paling merusak adalah ketika terjadi dalam hubungan antara pasangan.

Lantas apa itu apa itu gaslighting? dikutip dari qoura.com, istilah ini bukan hal yang baru tetapi belakangan ini istilah gaslighting menjadi populer khususnya dalam dunia percintaan. Istilah gaslighting ini berawal dari naskah drama berjudul “Gas Light” yang ditulis Patrick Hamilton pada 1938. Scene dari cerita tersebut yang menjadi sejarah dari istilah ini adalah ketika sang istri mempertanyakan keganjilan pada suaminya tetapi sang suami mencoba menutupinya dengan memanipulasi istrinya seolah-olah pertanyaan sang istri salah. Jadi, sang istri semakin ragu pada pertanyaannya sendiri dan menyalahkan dirinya sendiri.

Jadi gaslighting adalah jenis manipulasi psikologi ketika si pelaku berusaha membuat orang lain mempertanyakan persepsi atau realitas mereka sampai akhirnya, si korban memiliki kebergantungan dengan pelaku dalam hal pemikiran atau perasaan. Dalam buku “The Gaslight Effect” karya Robin Stern dikatakan jika seseorang mulai ragu pada penilaiannya sendiri, ia bisa berakhir dalam kondisi dimana ia tidak bisa mengambil keputusan secara mandiri atau bahkan bisa saja dia menganggap dirinya sebagai pelaku padahal dia sebagai korban.

Gaslighting, tindakan seseorang yang membuat orang lain (korbannya) tidak percaya diri bahkan menjadi ragu atas apa yang dia alami sendiri. Hal ini biasa terjadi saat ada sebuah pertengkaran. Pelaku gaslighting yang terpojok akan membela diri dengan cara ini. Dia akan berkata “Saya melakukan ini karena kamu” atau “Jika bukan karena kamu, saya tidak akan melakukan ini”. Intinya, setiap kesalahannya selalu dilempar penyebabnya kepada korban. Tindakan ini terus-menerus dilakukan pelaku untuk menutupi kesalahannya atau tidak menyadari kesalahannya. Akhirnya, korban gaslighting akan merasa bahwa pelaku benar dan bahkan korban juga bisa menjadi penurut pada permintaan pelaku gaslighting karena seolah-olah korban merasa dirinya perlu melakukan ‘penebusan dosa’. Dalam kasus yang lebih serius, korban mulai menerima realitas baru yang diciptakan pelaku gaslight tentang kebenaran jadi si korban akan berhenti mencari bantuan dan dukungan dari orang lain karena berpikir bahwa dirinya yang salah dan menjadi sepenuhnya bergantung dengan pelaku.

Lalu, bagaimana teknik para gaslighter ini?

Denial (Penolakan). Pelaku gaslight ini akan menolak sebuah informasi yang diberikan oleh korban dan membuat korban bertanya-tanya pada kebenaran tersebut. Misalnya :

A (korban) : “Kamu kan pernah janji mau jemput aku di bandara”

B (pelaku) : “Hah ? Kapan ? Ngga kok. Aku aja ngga tau kamu pulang ke Indonesia hari ini. Mungkin selingkuhan kamu.

A : “Hah?”

Pengalihan masalah, Pelaku gaslight akan mengalihkan masalah atau mempertanyakan hal lain dalam diri korban seperti kesehatan mentalnya atau pengalamannya. Misalnya :

A : “Aku melihat kamu berduaan dengan perempuan lain di taman”

B : “Mana mungkin, sayang. Inget kan kata dokter kalo kamu suka berhalusinasi ? Mungkin aja kamu lagi halu.”

Padahal mungkin saja apa yang dilihat perempuan tersebut benar tetapi pelaku mempersoalkan kesehatan mental perempuan tersebut yang belum tentu juga pada saat itu penyakitnya kambuh.

Reconfirming, Pelaku gaslight akan kembali memberikan keyakinan pada si korban bahwa dirinya tidak salah padahal mungkin saja pelaku itu hanya ingin menutupi kesalahannya. Misalnya :

A : “Mas, kok aku curiga ya sama perempuan yang biasa deket sama mas.”

B : “Sudahlah, udah dibilang kalo itu cuma client.”

Meremehkan, Pelaku mungkin akan berusaha meyakinkan korban bahwa permasalahannya itu hanya kecil dan tak perlu dipikirkan. Misalnya :

A : “Mas, tapii kok ada minyak wangi perempuan ya di jok belakang.”

B : “Kamu memang orangnya suka membesaekan masalah yang sepele, ya.”

Lalu, bagaimana tanda-tanda umum yang mungkin dialami korban gaslighting.? Menurut Robin Stern, PhD, penulis buku “The Gaslight Effect: How to Spot and Survive the Hidden Manipulation Others Use to Control Your Life,” tanda – tanda bahwa Anda menjadi korban gaslighting meliputi:

  1. Tidak lagi merasa seperti Anda yang dulu
  2. Menjadi lebih cemas dan kurang percaya diri dari sebelumnya
  3. Sering bertanya-tanya apakah Anda terlalu sensitive
  4. Merasa semua yang Anda lakukan salah
  5. Selalu berpikir itu salahmu jika ada yang salah
  6. Sering meminta maaf
  7. Merasa ada sesuatu yang salah, tetapi tidak dapat mengidentifikasi apa itu
  8. Sering mempertanyakan apakah tanggapan Anda kepada pasangan Anda sesuai (misalnya, bertanya tanya apakah Anda terlalu tidak masuk akal atau tidak cukup mencintai)
  9. Membuat alasan untuk perilaku pasangan Anda
  10. Menghindari memberikan informasi kepada teman atau anggota keluarga untuk menghindari konfrontasi tentang pasangan Anda
  11. Merasa terisolasi dari teman dan keluarga
  12. Merasa semakin sulit untuk membuat keputusan
  13. Merasa putus asa dan sedikit atau tidak menikmati aktivitas yang biasa Anda nikmati
  14. Mungkin itu hanya tanda-tanda umum saja tetapi alangkah baiknya untuk berkonsultasi pada psikolog untuk memastikan apakah kamu terjebak dalam gaslighting atau tidak.

Pada intinya, kita harus tetap berpikir rasional dalam suatu hubungan jangan sampai kita tetap bertahan pada suatu hubungan yang merugikan atau toxic relationship. Kita juga manusia dan kita butuh untuk diperlakukan sebagai manusia. Jangan sampai kita terjebak juga dengan pepatah yang mengatakan

Cinta itu ibarat kotoran kucing rasa cokelat. Udah tau itu salah atau ngga enak dimakan, tapi masih tetep aja dimakan. So, lebih berhati-hati pada suatu hubungan. Jangan sampai keinginan kita yang ingin mencari kedamaian dari cinta tapi justru menyakiti diri kita sendiri. Selamat bermalam Minggu ya gaes

Latest news
Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here