Telisik.co, Bengkulu – Green Sumatera juga menyoroti proyek yang kabarnya diduga ada pembabatan pohon sabuk hijau tsunami yang dilakukan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII Provinsi Bengkulu, Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang – Pulau Baii melalui PT. Bangun Kontruksi Jaya.

Pembabatan pohon sabuk hijau Tsunami diduga hanya untuk sebuah proyek pembangunan Bangunan Pengaman Pantai Panjang sepanjang 0,580 kilometer (Km) dengan anggaran APBN sebesar Rp20.512.787.000 agar sedimentasi tak terjadi.

Pada saat ini ancaman abrasi pantai, intrusi air laut kedaratan, sudah dirasakan cukup parah. Belum lagi ancaman tsunami, karena Provinsi Bengkulu terletak pada wilayah rawan bencana gempa bumi tektonik yang berpotensi mengakibatkan bencana tsunami.

“Data hasil kajian risiko Bencana yang disusun oleh BNPB pada tahun 2015, terlihat bahwa jumlah jiwa terpapar risiko bencana tsunami tersebar dibeberapa Pulau dengan jumlah melebihi 4 juta jiwa dan nilai aset terpapar melebihi Rp. 71 Triliun.” ungkap Syaiful Anwar, Ketua Green Sumatera, Jum’at (24/09/2021).

Secara rinci, menurut data, kata Syaiful, dari hasil kajian risiko bencana tsunami matrik jumlah paparan risiko bencana tsunami di Provinsi (rekapitulasi risiko bencana sedang-tinggi). “Provinsi Bengkulu sendiri sosial (jiwa) 77.888, fisik (Rp.Juta) 530.356, ekonomi (Rp. Juta) 511.212, dan lingkungan (hektare) 181.” jelas Syaiful.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bengkulu diwakili kepala bidang (Kabid) Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK) Riswandi mengatakan berkomitmen dengan Undang-undang (UU) Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana.

“Tanggungjawab dan wewenang, serta hak kewajiban masyarakat dalam UU RI Nomor 24 tahun 2007 pasal 26 (1) setiap orang berhak mendapatkan perlindungan sosial dan rasa aman, khususnya bagi kelompok masyarakat rentan bencana,” ungkapnya Selasa (14/7/2020) beberapa tahun lalu.

Untuk saat ini dalam menjaga kawasan sabuk hijau sebagai penyangga gelombang tinggi tsunami yaitu tanaman mangrove dan pohon-pohon sebagai pemecah gelombang. Apalagi pesisir Bengkulu relatif kosong dan sebagian merupakan permukiman.

“Potensi akan terjadi tsunami Bengkulu hingga mencapai delapan meter, dengan adanya kawasan sabuk hijau sepanjang pantai panjang sebagai penyangga gelombang tinggi adalah salah satu solusi untuk melindungi Kota Bengkulu,” jelasnya.

Sedangkan Kota Bengkulu sendiri menurut data peta bahaya akan rawan bencana banjir tersebar di sembilan kecamatan. “Kecamatan Selebar, Kampung Melayu, Gading Cempaka, Ratu Agung, Ratu Samban, Singaran Pati, Teluk Segara, Sungai Serut dan Muara Bangka Hulu,” katanya.

Dilansir sebelumnya, pembangunan dilakukan BWSS VII saat ini terlihat, Rabu (22/09/2021) pohon Sabuk Hijau Tsunami yang tersisa tidak ada lagi, sebelumnya pernah juga dilakukan PT.Noor Alif Bencoolen (NAB) lalu mendapatkan protes keras dari aktifis lingkungan.

Pohon Sabuk Hijau Tsunami yang dibabat saat ini terlihat jauh mata memandang disapu bersih oleh buldoser PT. Bangun Kontruksi Jaya, walaupun demikian nampak pembabatan tidak mendapatkan protes dari manapun. Dan pohon tersebut juga terlihat hilang.

Disisi lain pihak PT.NAB, Ariyono Gumay, sebagai pengelola mendapat izin prinsip usaha penyediaan sarana wisata alam, diblok pemanfaatan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai seluas 20,00 Ha tersebut ia mengatakan mengetahui pembabatan tersebut.

“Itu bukan wilayah PT. NAB, dan jika memang itu wilayah PT.NAB disitukan ada Pengawasan (BKSDA, red). Jika memang wilayah kita, Bisa penamaan kembali.” ungkap Ariyono Gumay, saat dihubungi via WA, Rabu (22/09/2021).

Disi lain, pihak BKSDA, mengatakan bahwa “Wilayah tersebut sepenuhnya sudah tanggungjawab PT. NAB, apapun yang dilakukan pasti sudah mendapatkan persetujuan,” ungkapnya saat ditanya perihal pembabatan pohon Sabuk Hijau tersebut.

Diketahui sebelumnya, Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang dan Pulau Baai berdasarkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia telah memberikan izin melalui Surat Keputusan Nomor: SK.988/Menlhk/Setjen/KSA.3/11/2019 kepada PT.NAB.

Keputusan tersebut merupakan lanjutan dari izin prinsip usaha penyediaan sarana wisata alam, diblok pemanfaatan TWA Pantai Panjang dan Pulau Baai seluas 20,00 Ha di Registrasi 91 Kota Bengkulu oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (Kepala BKPM) Nomor: 5/1/PP-IUPSWA/PMDN/2017 (11 April 2017).

Kemudian menyusun Rencana Pengusahaan Pariwisata Alam (RPPA) yang menjadi acuan usaha PT. NAB selama periode 55 tahun, juga telah disahkan oleh Dirjen KSDAE melalui SK.100/KSDAE/PJLHK/KSA.3/3/2018 tanggal 2 Maret 2018 tentang Pengesahan RPPA atas Nama PT.NAB.

Setelah itu, tidak lama kemudian akhirnya menuai kontroversi dari berbagai kalangan seperti saat itu dari aktifis lingkungan atau dari kalangan Non Governmnet Organization (NGO) lingkungan beserta DPRD Kota Bengkulu, karena Sabuk Hijau Tsunami (pohon) dibabat oleh PT. NAB sebagai pengelola.

Dengan mendapatkan protes pengerjaan terhenti, kemudian PT. NAB melakukan penamaan (penghijauan kembali, red) di lokasi tersebut dengan tujuan agar dapat hijau kembali. Dan penamaan saat itu dihadiri oleh Dirjen KSDAE Ir.Wiratno, M.Sc, (07/08/2020).

“Coba Peluk sebatang pohon, maka kalian akan merasakan arti hakekat sebatang pohon, rasakan detak jantungnya, rasakan nafasnya, rasakan aliran darahnya. Rasa itu seperti Ibu memeluk anaknya.” ungkapnya saat menghadiri penanam waktu itu. [***]

Editor: Panji Putra Pradana