Rachmawati Sukarnoputri, (tengah) Foto: Dok

Telisik.co, jakarta – Rachmawati Soekarnoputri menghembusakan nafas terakhir  di RSPAD Gatot Subroto Jakarta sekira pukul 06.15 WIB, Sabtu, (03/07/2021). Rachma akan akan dimakamkan di Blok AA 1 Blad 7 TPU Karet Bivak, Jakarta, Sabtu siang. Putri dari pasangan Sukarno dan Fatmawati ini meninggal di usia 70 tahun.

Ayahnya Sukarno merupakan presiden pertama Republik Indonesia sedangkan ibunya Fatmawati merupakan putri kelahiran Bengkulu. Fatmawai merupakan anak dari pasangan Hasan Din dan SIti Chadijah. Hasan Din merupakan guru di sekolah Muhammadiyah Bengkulu.

Perkenalan Sukarno dan Fatmawati berawal pada Tahun 1938. Saat itu Bengkulu kedatangan tokoh pergerakan paling masyhur di negeri ini, yakni Sukarno yang berstatus sebagai orang buangan. Hasan Din kemudian meminta Sukarno mengajar di sekolah yang ia dirikan. Fatmawati adalah putri Hasan Din yang belajar di sekolah tersebut. Beberapa tahun kemudian, Fatmawati dinikahi oleh Sukarno.

Hasil dari pernikahan keduanya lahirlah Rachmawati yang merupakan anak ketiga. Urutannya; Guntur Soekarno Putra (anak sulung), Megawati Soekarnoputri (putri kedua/presiden RI ke-4), Rachmawati Seokarnoputri (anak ketiga), Sukmawati Soekarnoputri (anak keempat), dan Guruh Suokarnoputra (anak bungsu).

Rachmawati merupakan sosok yang memiliki perhatian dan kepedulian yang besar pada sejumlah isu internasional. Ia kerap menyuarakan protes terhadap praktik neokolonialisme dan neoimperialisme yang masih terjadi di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Afghanistan, Irak, Iran, Kuba, Venezuela, juga Korea Utara.

Rachma juga merupakan salah seorang tokoh reunifikasi Semenanjung Korea. Di organisasi Komite Regional Asia Pasifik untuk Reunifikasi Damai Korea (APRCPRK) bersama antara lain mantan Perdana Menteri Nepal, Madhav Kumar Nepal, dan Walikota Sydney, Peter Woods, putri Bung Karno ini duduk sebagai Ketua Bersama.

Demikian dikatakan Direktur Informasi Publik APRCPRK, Teguh Santosa, dalam keterangan beberapa saat lalu (Sabtu, 3/7). Kedekatan Rachma dengan isu reunifikasi Korea berlangsung sejak lama. Pada tahun 2001 Rachma berkunjung ke Pyongyang. Kunjungan itu kembali menghangatkan hubungan kedua negara yang sempat redup di era Orde Baru.

Teguh mengatakan, kabar kepergian Rachma sangat mengejutkan sahabat-sahabat Rachma di luar negeri maupun perwakilan negara sahabat di Jakarta. Sejumlah ucapan duka yang diterimanya untuk disampaikan ke pihak keluarga antara lain berasal dari Dutabesar Rusia, Lyudmila Vorobieva, lalu dari Dubes Kuba Tania Velazquez, Dubes Iran Mohammad Azad, Dubes Radames Gomez, dan Dubes Korea Utara An Kwang Il.

Sejarawan Greg Poulgrain yang sedang berada di Brisbane, Australia, juga telah menyampaikan ucapan duka. Bersama Greg Poulgrain, Rachma merancang pembuatan film dokumenter mengeai Bung Karno. Rencana itu terhenti karena pandemi Covid-19 yang merebak sejak akhir 2019.

“There is nobody but you to whom I can pass on my concolences. I am so sorry to hear that Ibu Rachma passed away. Wow, a real lady she was. What a life!” tulis Greg dalam pesannya.

Reporter: Firzani