Telisik.co- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu menuntut Ujang Satria Alias Satria Utama terdakwa pemalsuan dokumen tanah dengan hukuman pidana 4 tahun penjara. Sedangkan terdakwa lainnya Sunardin alias Ari dituntut lebih ringan dengan hukuman pidana 2 tahun 6 bulan penjara, Selasa (18/5/2021).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bengkulu Wenharnol mengatakan kedua terdakwa memiliki peran yang berbeda. Ujang Satria terbukti memalsukan surat tanah korban. Sedangkan Sunardin terbukti melakukan pengerusakan tanaman.

“Sehingga tuntutan untuk terdakwa Ujang Satria lebih tinggi dari rekan terdakwanya. Untuk persidangan selanjutnya dengan agenda fledoi dari terdakwa,”ujarnya

Wenharnol menuturkan, berdasarkan fakta persidangan kedua terdakwa terbukti bersalah karena Ujang Satria yang membuat surat yang digunakan dasar kepemilikan tanah itu. Sebelumnya mereka sempat beradu surat kepemilikan dengan korban saat dimediasi di Kantor Kelurahan Betungan dan yang minta mediasi itu terdakwa Ujang Satria.

“Pasal yang disangkakan 263 ayat 1 dan 2 dengan ancaman maksimal 5 tahun itu untuk terdakwa Ujang Satria, kalau untuk Sunardin dia yang mencari alat untuk meratakan tanah itu, jadi pasal pengerusakan dengan ancaman 2 tahun 6 bulan penjara,” jelas Wenharnol.

Sekedar mengingatkan, kasus mafia tanah ini merupakan hasil ungkapan dari Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Bengkulu.

Saat itu Polda menetapkan empat orang tersangka yakni SU, SN, UP, dan SH, namun yang ditangani Polda Bengkulu hanya dua orang tersangka, karena dua orang tersangka lainnya yakni UP dan SH dalam penanganan Polres Bengkulu atas kasus dugaan penganiayaan.

Terungkapnya kasus mafia tanah ini berawal dari laporan korban Imas Belly nomor: LP-B/75/I/2021 / Bengkulu, tanggal 21 Januari 2021. Modus tersangka yakni berawal pada 6 Desember 2020 lalu tersangka SU dan UP serta tersangka SN datang ke Lokasi lahan kebun milik korban yang di klaim telah dibeli senilai Rp 50 juta.

Tiba dilokasi kebun ketiganya langsung melakukan pengerusakan dengan cara merobohkan tanaman kelapa sawit milik korban yang berjumlah 120 batang menggunakan alat berat.

Setelah selesai memotong tanaman lahan kebun milik korban, ketiganya langsung melakukan pengaplingan tanah menjadi 42 kapling dan kemudian di jual oleh tersangka SN.

Mengetahui hal tersebut, korban langsung mendatangi ketiga tersangka untuk menanyakan maksud pengaplingan yang dilakukan, oleh ketiga tersangka korban di perlihatkan dokumen kepemilikan tanah yang di klaim milik tersangka, namun melihat dokumen yang di perlihatkan korban menemukan beberapa kejanggalan sehingga korban memutuskan untuk membuat laporan. Dalam perkara ini, korban mengalami kerugian Rp 300 juta.

Penulis : Mahmud Yunus