Zoswarni saat menunjukan foto kondisi dirinya usai mewarnai rambut di salah satu salon di Kota pada Januari 2021, Rabu, 14 Juli 2021, Foto: Dok  

Telisik.co, Bengkulu – Zoswarni warga Jalan Bhakti Kelurahan Clincing, Jakarta Utara diduga menjadi korban kelalaian praktek salon kecantikan. Zoswarni bersama kuasa hukumnya pada Rabu, 14 Juli 2021 mendatangi Mapolda Bengkulu bermaksud mempertanyakan kelanjutan laporan pengaduan yang sebelumnya Ia layangkan beberapa bulan lalu.

Diceritakan Zoswarni, peristiwa kejadianya berawal pada bulan Januari 2021 saat dirinya datang ke salah satu salon kecantikan di Jalan KZ Abidin, Kota Bengkulu dengan tujuan untuk memotong dan mewarnai rambut. Saat di salon dirinya mendapatkan pelayanan seperti pelanggan pada umumnya. Ia kemudian meminta pemilik salon untuk memberikan dirinya produk pewarna rambut yang bagus dan sesuai.

Oleh pemilik salon yang akrab di panggil Koko dan Cece (panggilan dari korban) siap melayani korban dengan memberikan produk pewarna rambut yang terbagus dan termahal yang dimiliki salonnya. Lalu korban kemudian mendapatkan pelayanan.

Setelah rambut korban diwarnai, tidak berselang lama korban merasakan kulit kepala dan wajah bagian atas memerah dan perih seperti rasa terbakar. Selain itu, dirinya langsung mengalami bengkak dan lembam kemerahan seperti terbakar di bagian wajah.

“Saya mengalami panas dan sakit di bagian muka, kepala dan mata sebelah rambut saya diwarnai. Alasannya awalnya karena cat belum kering namun, setelah kering masih saja kondisinya seperti itu” kata dia.

Ia kemudian langsung bertanya kepada pemilik salon atas apa yang dialaminya namun, pemilik salon menyarankan untuk membeli obat di apotek yang berada di kawasan Suprapto. Ia mengikuti saran pemilik salon dan membeli obat di apotek.

Saat di sedang membeli obat, pemilik apotek sempat menayakan kepada Zoswarni, apakah pemilik salon melakukan test dulu sebelum memberikan pewarna rambut. Lalu korban kembali mendatangi salon, pemilik salon mengakui bahwa ada kelalaian yang lupa mereka lakukan karena tidak melakukan tester terlebih dahulu.

Atas kejadian itu, korban kemudian mencoba meminta pertanggungjawaban pemilik salon namun, tidak diindahkan dan tidak menemukan kata sepakat sehingga korban memilih melaporkan kejadian tersebut ke Mapolda Bengkulu.

“Saya sudah berobat sendiri tanpa adanya pertanggungjawaban dari pihak salon. Yang saya laporkan yakni kelalaian dan perlindungan konsumen” kata Zoswarni. [Panji Putra Pradana]